'

Tujuan dan Makna Upacara Galungan, Bali

Tujuan dan Makna Upacara Galungan, Bali

Pernahkah Anda tertarik untuk menjadi salah satu peserta upacara pelaksanaan hari raya Galungan? Hari raya yang masuk dalam tradisi dan budaya masyarakat Bali ini sudah ada sejak lama dan menjadi salah satu wujud ikon budaya bangsa Indonesia. Untuk menikmati Bali, memang tidak mungkin tanpa mengenal adat dan budaya tradisi masyarakatnya, sebab karakter orang Bali dapat dilihat jelas dalam manifestasi spiritualnya. Salah satunya ialah upacara pelaksanaan Hari Raya Galungan yang merupakan upacara suci.

Dalam Lontar Sri Jayakasunu, hari raya Galungan dipaparkan bahwa Sri Jayakasunu merasa heran dan gelisah mengapa para pejabat kerajaan banyak yang meninggal saat usia masih muda. Sri Jayakasunu kemudian melakukan semedhi tapa brata dan mendekatkan diri dengan para dewata. Tapa brata itu dilakukan di Pura Dalem Puri, lokasinya dekat dengan Pura Besakih. Dalam tapa brata tersebut, Dewi Durga menjumpainya lalu mengatakan bahwa para pejabat kerajaannya banyak yang meninggal kala masih muda karena mereka tidak lagi merayakan Galungan seperti yang pernah dilakukan oleh leluhurnya. Dewi Durga kemudian memberi saran kepada Raja Sri Jayakasunu untuk kembali mengadakan Galungan pada setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang dulu pernah dilaksanakan.

Galungan

Dalam pelaksanannya, Dewi Durga juga memberitahukan agar rakyat dan Raja Sri Jayakasunu memasang penjor yang memiliki makna sebagai ungkapan terimakasih atas kemakmuran dan kesejahteraan yang telah dilimpahruahkan oleh Hyang Widhi Wasa. Penjor adalah bambu yang menjulang tinggi dan melengkung. Wujud itu diibaratkan sebagai gambaran gunung agung tempat suci para dewa bersamayam. Penjor dihiasi dengan berbagai macam hal, yaitu kelapa, pisang, tebu, padi, dan kain. Semua itu merupakan perwakilan dari seluruh tumbuhan dan sandang yang dimanfaatkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Galungan

Hari raya Galungan oleh masyarakat Bali dilaksanakan setiap 6 bulan Bali (210 hari) yaitu pada hari Budha Kliwon Dungulan (Rabu Kliwon Wuku Dungulan) sebagai hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma. Bagi umat yang memiliki anggota keluarga yang berstatus mapendem atau dikubur atau istilah Balinya ialah Makingsan di Pertiwi maka umat tersebut wajib membawakan banten ke kuburan dengan istilah mamunjung ka setra atau kuburan.

Persembahan dihaturkan ke hadapan Ida Sanghyang Widhi dan kepada semua dewa-dewa dan dilakukan di sanggah parahyangan, di atas tempat tidur, halaman, lumbung, dapur, tugu, dan bangunan-bangunan penting lainnya. Seterusnya di kahyangan tiga di pengulun setra (prajapati) kepada Dewi laut (Samudera), Dewa Hutan (Wana Giri) dan diperabot rumah tangga.

Galungan

Galungan

Pelaksanaan upacara ini bertujuan untuk menyambut dan merayakan hari raya sebagai rasa syukur dengan bergembira atas anugerah Hyang Widhi dalam batas-batas kesusilaan agama dan keprihatinan bangsa. Menerangkan hati, agar cura, dira, dan deraka (berani, kokoh, dan kuat) dalam menghadapi hidup di dunia. Dapat hidup hemat dan sederhana dalam menggunakan uang. Terakhir dan paling penting adalah dalam memanjatkan doa syukur tersebut semuanya dilakukan dengan ketulusan hati kepada Hyang Widhi.

Kalau Anda ingin menyaksikannya, datanglah pada Hari Budha Kliwon Dungulan ke Bali. Di tahun 2015, hari raya ini jatuh tanggal 23 Januari, dan selanjutnya akan jatuh pada 210 hari kemudian, jadi memasuki bulan Agustus 2015 upacara ini akan dilaksanakan kembali. Upacara ini tidak tertutup seperti Nyepi, sehingga Anda bisa mengabadikannya dengan kamera namun harap dalam kondisi hening ya agar tidak mengganggu prosesi upacara. Kalau Anda lebih suka mengunjungi objek wisata, di Bali terdapat Pura Taman Ayun, Air Terjun Nungnung, Nusa Penida,  New Kuta Green Park, dan lain-lain.

Hotel Murah di Bali, ada Puri Lumbung Cottages Hotel, Pacung Indah Hotel, Munduk Sari Nature Villa, atau Melanting Cottages Munduk.